LAMAN

Kamis, 23 Oktober 2014

Apa perbedaan Skripsi, Tesis dan Disertasi ?


kebingungan awal saat masuk bangku kuliah yang ada di pikiran saya adalah apa perbedaan mendasar antara Disertasi, Skripsi, dan thesis? Akhirnya rasa ingn tahu saya membawa saya untuk mencari tau di mbah google  perbedaan dari ketiga langkah ahir dari mba dan mas-mas dalam menempuh jenjang studi di perkuliahan, jadi :

  • Skripsi dijadikan syarat kelulusan di program S-1  dengan maksud memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menunjukkan bahwa dia dapat menerapkan langkah-langkah pendekatan ilmiah untuk memperoleh pengetahuan dan melaporkannya secara tertulis.  Biasanya, dalam skripsi tidak dituntut adanya sintesis baru atau penemuan baru.
  • Thesis dijadikan syarat kelulusan di program S-2 dengan maksud memberikan kesempatan kepda mahasiswa untuk menunjukkan bahwa dia dapat mebuat suatu sintesis baru atau penerapan pengetahuan yang sudah ada, dan melaporkannya secara tertulis.
  • Disertasi dijadikan syarat kelulusan di program S-3 dengan maksud memberikan kesempatan kepda mahasiswa untuk menunjukkana bahwa dia memahami (mengikuti) perkembangan mutakhir pengetahuan ilmiah di bidang ilmunya  dan memberikan sumbangan pada perkembangan ilmu itu melalui penemuan baru yang orisinal yang dilaporkannya secara tertulis.
Pada dasarnya skripsi mahasiswa S1 merupakan ajang latihan bagi mahasiswa untuk melakukan penelitian secara obyektif. Oleh karena baru pertama sekali meneliti maka mahasiswa S1 ini sangat membutuhkan bimbingan dosen agar tidak melakukan kesalahan fatal yang menyebabkan mereka harus mengulang. Tesis S2 merupakan ajang peningkatan kemampuan mahasiswa dalam meneliti dan diharapkan mahasiswa sudah mampu meneliti dengan bimbingan yang minimal dari dosen. Desertasi S3 merupakan pembuktian kemampuan mahasiswa S3 dalam meneliti secara mandiri.

Secara sederhana, skripsi itu menjawab apa, tesis menjawab apa dan mengapa, Dan disertasi itu menjawab apa, mengapa dan bagaimana. Contoh tentang penelitian daun katuk dalam menurunkan kolesterol telur. Skripsi hanya menjawab pertanyaan apakah daun katuk menurunkan kolesterol telur? Tesis itu menjawab dua pertanyaan, yaitu a) apakah daun katuk menurunkan kolesterol telur dan; b) mengapa daun katuk menurunkan kolesterol. Disertasi menjawab 3 pertanyaan, yaitu: a) apakah daun katuk menurunkan kolesterol telur?; b) mengapa daun katuk menurunkan kolesterol telur? Dan; c) bagaimana cara (mekanisme) daun katuk menurunkan kolesterol telur?

Seringkali dosen pembimbing lupa akan hal tersebut, sehingga sering meminta mahasiswa meneliti lebih dari seharusnya. Apa alasannya? Pertama, mungkin dikarenakan ketidaktahuannya dan pengalamannya sebagai mahasiswa dulu juga seperti itu. Sebagai contoh, dosen pembimbing meminta mahasiswa S1 untuk menjawab selain apa juga mengapa. Kedua, dosen pembimbing sudah tahu hal ini tetapi dikarenakan ia menginginkan data penelitian lebih, maka ia memaksakannya pada mahasiswa bimbingannya. Mungkin sang dosen bermaksud data tersebut akan dipublikasikan dimana ia sebagai penulis utamanya. Mungkin juga dosen mempunyai alasan yang lain.
Apapun alasannya, sesungguhnya dosen tidak dibenarkan untuk memaksa mahasiswa di luar ketentuan atau kesepakatan yang berlaku. Jika menginginkan data yang lebih akurat dan lebih banyak untuk menjawab permasalahan yang ada, maka sebaiknya dosen membuat proposal penelitian sendiri dan mengajukannya ke Dikti atau ke penyandang dana lainnya. Ia harus berkompetisi untuk memperoleh dana penelitian.
Tabel 1.  Perbedaan Umum antara Skripsi, Tesis dan Disertasi
No
Aspek
Skripsi
Tesis
Disertasi
1
Jenjang
S1
S2
S3 (tertinggi)
2
Permasalahan
Dapat diangkat dari pengalaman empirik, tidak mendalam
Diangkat dari pengalaman empirik, dan teoritik, bersifat  mendalam
Diangkat dari kajian teoritik yang didukung fakta empirik, bersifat sangat mendalam
3
Kemandirian penulis
60% peran penulis, 40% pembimbing
80% peran penulis, 20% pembimbing
90% peran penulis, 10% pembimbing
4
Bobot Ilmiah
Rendah – sedang
Sedang – tinggi.  Pendalaman / pengembangan terhadap teori dan penelitian yang ada
Tinggi, Tertinggi dibidang akademik.   Diwajibkan mencari terobosan dan teori baru dalam bidang ilmu pengetahuan
5
Pemaparan
Dominan deskriptif
Deskriptif dan Analitis
Dominan analitis
6
Model Analisis
Rendah – sedang
Sedang – tinggi
Tinggi
7
Jumlah rumusan masalah
Sekitar 1-2
Minimal 3
Lebih dari 3
8
Metode / Uji statistik
Biasanya  memakai uji Kualitatif / Uji deskriptif, Uji statistik parametrik (uji 1 pihak, 2 pihak), atau Statistik non parametrik (test binomial, Chi kuadrat, run test), uji hipotesis komparatif, uji hipotesis asosiatif, Korelasi, Regresi, Uji beda, Uji Chi Square, dll
Biasanya memakai uji Kualitatif  lanjut  /  regresi ganda, atau korelasi ganda, mulitivariate, multivariate lanjutan (regresi dummy, data panel, persamaan simultan, regresi logistic, Log linier analisis,  ekonometrika static & dinamik, time series ekonometrik) Path analysis, SEM
Sama dengan tesis dengan metode lebih kompleks, berbobot yang bertujuan mencari terobosan dan teori baru dalam bidang ilmu pengetahuan
9
Jenjang Pembimbing/ Penguji
Minimal Magister
Minimal Doktor dan Magister yang berpengalaman
Minimal Profesor dan Doktor  yang berpengalaman
10
Orisinalitas penelitian
Bisa replika penelitian orang lain, tempat kasus berbeda
Mengutamakan orisinalitas
Harus orisinil
11
Penemuan hal-hal yang baru
Tidak harus
Diutamakan
Diharuskan
12
Publikasi hasil penelitian
Kampus Internal dan disarankan nasional
Minimal Nasional
Nasional dan Internasional
13
Jumlah rujukan / daftar pustaka
Minimal 20
Minimal 40
Minimal 60
14
Metode / Program statistik yang biasa digunakan
Kualitatif / Manual, Excel, SPSS dll
Kualitatif lanjut / SPSS, Eview, Lisrel, Amos dll
Kualitatif lanjut / SPSS, Eview, Lisrel, Amos dll
Sumber :  Agung Wahyudi Biantoro,  Metode Penelitian Ekonomi Islam, 2009 (mbah google)

Kamis, 09 Oktober 2014

PENGGUNAAN EJAAN BARU YANG DISEMPURNAKAN PADA PENULISAN KARYA ILMIAH



 1.  Huruf Besar (Huruf Kapital)
       a.   Huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.  
     b.   Huruf besar dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama orang. Huruf besar tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagai satuan ukuran.
             Contoh:   =  menurut Wignjosastro,
                            =  berdasarkan hasil penelitian Sackett.
                                 tetapi:
                            =  5 ampere,
                            =  10 joule.
             Tetapi:    =  25o C
                            =  230o F
                            =  300o K
      c.    Huruf besar dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.
             Contoh: bangsa Perancis, suku Sunda, bahasa Jepang.
      d.   Huruf besar dipakai sebagai huruf pertama nama bulan dan hari.
             Contoh: bulan Januari, hari Senin.
      e.    Huruf besar dipakai sebagai huruf pertama nama geografi.
             Contoh: Kabupaten Bogor, Kecamatan Senen.
      f.    Huruf besar dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama negara, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi, kecuali kata seperti dan.
             Contoh:
             -   Republik Indonesia,
             -   Kementerian Kesehatan,
             -   Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional,
             -   Peraturan Pemerintah No. 781.
      g.   Huruf besar dipakai sebagai huruf pertama semua kata di dalam nama buku, jurnal, dan judul makalah, kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, yang, serta untuk yang tidak terletak pada posisi awal.
             Contoh:
             -   Majalah Kedokteran Indonesia
             -   Karakteristik Penderita Demam Berdarah Dengue yang Dirawat di RSUD Tarakan, Jakarta Barat 2012

2.  Huruf Miring
      a.    Huruf miring dipakai untuk menuliskan nama buku dan jurnal yang dikutip dalam tulisan.
             Contoh: Journal of Pediatrics, Obstetrics, and Gynecology.
      b.   Huruf miring dipakai untuk menuliskan kata nama ilmiah atau ungkapan asing, kecuali yang telah disesuaikan ejaannya.
             Contoh:    =  Nervus Olfactorius (Nervus Olfaktorius)
                              =  Asetilkolin (acetylcholine)



3.  Penulisan Kata Turunan
      a.    Awalan di dan ke (serta semua awalan dan akhiran lainnya) ditulis serangkai dengan kata dasarnya.
             Contoh: diberikan, keterangan.
      b.   Pada dasar berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mendahului atau mengikutinya, sedangkan pada bentuk dasar berupa gabungan kata yang mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai.
             Contoh:   -     sebar luaskan, tetapi: penyebarluasan.
                            -     bertanggung jawab, tetapi: pertanggungjawaban.

4.  Penulisan Gabungan Kata
      a.    Gabungan kata berupa kata majemuk, unsur-unsurnya ditulis terpisah.
             Contoh: mata ajaran, model linear, orang tua, rumah sakit umum.
      b.   Gabungan kata berikut ditulis serangkai:
             acapkali, adakalanya, bagaimana, bilamana, daripada, dukacita, kacamata, kepada, kilometer, olahraga, padahal, radioaktif, sebagaimana, segitiga, sekalipun, sukacita.

5.  Penulisan Kata Depan di, ke, dan dari
      Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata, seperti dimana, kemana, kepada, dan daripada.
      Contoh: di dalam, di atas, ke sekolah, ke luar, dari Bandung.

6.  Penulisan Angka dan Lambang Bilangan
      a.    Penulisan lambang bilangan pecahan dengan huruf dilakukan sebagai berikut:
             setengah (1/2), tiga perempat (3/4), seperenam belas (1/16).
      b.   Penulisan lambang bilangan tingkat dilakukan sebagai berikut:
             Bab II, bab ke-2, abad XXI, abad ke-21.
      c.    Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf, atau susunan kalimat diubah sehingga bilangan tidak terdapat pada awal kalimat.
             -   Anggota sampel penelitian ini adalah 120 orang.
             -   Seratus dua puluh responden dalam penelitian ini . . .

7.  Penulisan Unsur Serapan
      -     analisis, bukan analisa
      -     anamnesis, bukan anamnesa
      -     apotek, bukan apotik
      -     diagnosis, bukan diagnosa
      -     kementerian, bukan kementrian
      -     linear, bukan linier
      -     molekular, bukan molekuler
      -     objek, bukan obyek
      -     persentase, bukan persentasi atau presentase
      -     praktik, bukan praktek
      -     prognosis, bukan prognosa
      -     respons, bukan respon
      -     risiko, bukan resiko
      -     sistem, bukan sistim
      -     subjek, bukan subyek
      -     teknik, bukan tehnik
      -     teoretik, bukan teoritik
      -     vaskular, bukan vaskuler
     
8.  Lain-lain:
      -     Akhiran –itas mengubah huruf f pada akhir kata serapan menjadi v:
             =  aktif menjadi aktivitas,
             =  efektif menjadi efektivitas,
             =  sensitif menjadi sensitivitas,
                 tetapi:
             = spesifik menjadi spesifisitas (f bukan pada akhir kata)
      -     dimana hanya digunakan dalam kalimat tanya, hindari penggunaannya dalam kalimat positif.
             Contoh:
             =  Pada penderita anemia, dimana kadar Hb kurang daripada . . .
             =  Dimana letak kelenjar pinealis dalam tubuh manusia?
    -     dan dan atau adalah kata sambung yang digunakan untuk menghubungkan 2 kalimat, 2 konsep, atau 2 hal. Jangan memulai kalimat dengan kata dan atau atau.
      -     Hindari penggunaan singkatan dll., dsb., dst. dalam teks narasi, tuliskan dengan lengkap dan lain-lain, dan sebagainya, dan seterusnya. Singkatan-singkatan ini hanya boleh digunakan dalam tabel atau bagan.
     -     Hindari penggunaan singkatan s.d. (bukan s/d) dalam teks narasi, tuliskan dengan lengkap sampai dengan. Singkatan ini hanya boleh digunakan dalam tabel atau bagan.
       -     Hindari penggunaan lambang >, >, =, <, <, dalam teks narasi, tuliskan dengan lengkap lebih daripada, sama dengan atau lebih daripada, sama dengan, kurang daripada, sama dengan atau kurang daripada. Lambang-lambang ini hanya boleh digunakan dalam tabel, bagan, grafik, atau rumus.
    -     Kata dari hanya digunakan untuk menyatakan arah (= from), penggunaannya untuk menyatakan kepemilikan (= of) sedapat mungkin dihindari.
             Contoh:   =    Penduduk desa itu sebagian besar berasal dari Sumatera.
                            =    Berdasarkan hasil penelitian (dari) Cunningham, . . .
       -    Penggunaan dari dan daripada: dari digunakan untuk menyatakan arah (= from), daripada digunakan untuk menyatakan perbandingan (= than).
             Contoh:   =    Ia datang dari rumah.
                            =    Kelompok usia lebih daripada 35 tahun.
         -     Perhatikan penggunaan singkatan ilmiah:
              = gram disingkat g, bukan gr
              = kilogram disingkat kg, bukan kgr 
          -     Perhatikan penulisan:
               = organ paru, bukan organ paru-paru.
               = pada anak, bukan pada anak-anak.
               = susunan saraf, bukan susunan syaraf.
               = karena atau disebabkan, bukan dikarenakan
               = mengubah, bukan merubah
               = silakan (mempersilakan), bukan silahkan (mempersilahkan)
               = terampil (keterampilan), bukan trampil (ketrampilan).
        -  Hindari penggunaan istilah asing, sedapat mungkin gunakan istilah bahasa Indonesia. Jika istilah bahasa Indonesia yang ada belum atau tidak lazim dipakai, dapat dicantumkan terjemahannya dalam kurung atau gunakan istilah asing yang penulisannya telah disesuaikan ejaannya.
        -    Gunakan istilah yang sama secara konsisten untuk merujuk satu konsep ilmiah dalam seluruh penulisan.
             Contoh: Sekali menggunakan istilah seksio sesaria, istilah ini harus digunakan secara konsisten dalam seluruh penulisan, jangan mencantumkan lagi istilah sectio caecaria atau caecarian section.