1. Huruf Besar (Huruf Kapital)
a. Huruf
besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal
kalimat.
b. Huruf besar dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama orang. Huruf besar tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagai
satuan ukuran.
Contoh:
= menurut
Wignjosastro,
= berdasarkan hasil penelitian Sackett.
tetapi:
= 5
ampere,
= 10 joule.
Tetapi: = 25o
C
= 230o
F
= 300o
K
c. Huruf besar dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.
Contoh: bangsa Perancis, suku Sunda,
bahasa Jepang.
d. Huruf besar dipakai sebagai huruf pertama nama bulan dan hari.
Contoh: bulan Januari, hari Senin.
e. Huruf besar dipakai sebagai huruf pertama nama geografi.
Contoh: Kabupaten Bogor, Kecamatan Senen.
f. Huruf besar dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama negara, lembaga pemerintah
dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi, kecuali kata seperti dan.
Contoh:
- Republik Indonesia,
- Kementerian Kesehatan,
- Badan
Kependudukan
dan Keluarga Berencana Nasional,
- Peraturan
Pemerintah
No.
781.
g. Huruf besar dipakai sebagai huruf pertama semua kata di dalam nama buku, jurnal, dan
judul makalah, kecuali kata seperti di,
ke, dari, dan, yang, serta untuk yang tidak terletak pada posisi awal.
Contoh:
- Majalah Kedokteran
Indonesia
- Karakteristik
Penderita
Demam
Berdarah
Dengue
yang Dirawat di RSUD
Tarakan,
Jakarta
Barat
2012
2. Huruf Miring
a. Huruf miring dipakai untuk menuliskan nama buku dan jurnal yang dikutip dalam tulisan.
Contoh: Journal of Pediatrics, Obstetrics, and
Gynecology.
b. Huruf miring dipakai untuk menuliskan kata nama ilmiah atau ungkapan asing, kecuali yang
telah disesuaikan ejaannya.
Contoh: = Nervus Olfactorius
(Nervus Olfaktorius)
= Asetilkolin (acetylcholine)
3. Penulisan Kata Turunan
a. Awalan di dan ke (serta semua awalan dan akhiran lainnya) ditulis serangkai dengan kata dasarnya.
Contoh: diberikan, keterangan.
b. Pada dasar berupa gabungan kata, awalan atau
akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mendahului atau
mengikutinya, sedangkan pada bentuk dasar berupa gabungan kata yang mendapat
awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai.
Contoh: - sebar luaskan,
tetapi: penyebarluasan.
- bertanggung jawab,
tetapi: pertanggungjawaban.
4. Penulisan Gabungan Kata
a. Gabungan kata berupa kata majemuk, unsur-unsurnya ditulis
terpisah.
Contoh: mata ajaran, model linear,
orang tua, rumah sakit umum.
b. Gabungan kata berikut ditulis serangkai:
acapkali, adakalanya, bagaimana, bilamana, daripada, dukacita, kacamata, kepada, kilometer, olahraga, padahal, radioaktif, sebagaimana, segitiga, sekalipun, sukacita.
5. Penulisan Kata Depan di, ke, dan dari
Kata
depan di, ke, dan dari ditulis
terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali di dalam
gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata, seperti dimana, kemana, kepada, dan daripada.
Contoh:
di
dalam, di
atas, ke
sekolah, ke
luar, dari
Bandung.
6. Penulisan Angka dan Lambang Bilangan
a. Penulisan lambang bilangan pecahan dengan
huruf dilakukan sebagai berikut:
setengah
(1/2), tiga perempat (3/4), seperenam belas (1/16).
b. Penulisan lambang bilangan tingkat dilakukan
sebagai berikut:
Bab II, bab ke-2, abad XXI, abad ke-21.
c. Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis
dengan huruf, atau susunan kalimat diubah sehingga bilangan tidak terdapat pada
awal kalimat.
- Anggota sampel
penelitian ini adalah 120 orang.
- Seratus dua
puluh responden dalam penelitian ini . . .
7. Penulisan Unsur Serapan
- analisis, bukan analisa
- anamnesis, bukan anamnesa
- apotek, bukan apotik
- diagnosis, bukan diagnosa
- kementerian, bukan kementrian
- linear, bukan linier
- molekular,
bukan molekuler
- objek, bukan obyek
- persentase, bukan persentasi atau presentase
- praktik, bukan praktek
- prognosis, bukan prognosa
- respons,
bukan respon
- risiko, bukan resiko
- sistem, bukan sistim
- subjek, bukan subyek
- teknik, bukan tehnik
- teoretik, bukan teoritik
- vaskular,
bukan vaskuler
8. Lain-lain:
- Akhiran –itas mengubah huruf f pada
akhir kata serapan menjadi v:
= aktif
menjadi
aktivitas,
= efektif menjadi
efektivitas,
= sensitif menjadi sensitivitas,
tetapi:
= spesifik
menjadi spesifisitas
(f
bukan pada akhir kata)
- dimana hanya digunakan dalam kalimat tanya,
hindari penggunaannya dalam kalimat positif.
Contoh:
= Pada penderita anemia, dimana kadar Hb kurang daripada . .
.
= Dimana letak kelenjar pinealis dalam tubuh manusia?
- dan dan atau adalah kata sambung yang digunakan untuk menghubungkan 2
kalimat, 2 konsep, atau 2 hal. Jangan memulai
kalimat dengan kata dan atau atau.
- Hindari penggunaan singkatan dll., dsb., dst. dalam teks narasi, tuliskan
dengan lengkap dan lain-lain, dan sebagainya, dan seterusnya. Singkatan-singkatan ini hanya boleh digunakan dalam
tabel atau bagan.
- Hindari penggunaan singkatan s.d. (bukan s/d) dalam teks narasi, tuliskan dengan lengkap sampai dengan. Singkatan ini hanya boleh
digunakan dalam tabel atau bagan.
- Hindari penggunaan lambang >, >, =, <,
<, dalam teks narasi,
tuliskan dengan lengkap lebih daripada,
sama dengan atau lebih daripada, sama dengan, kurang daripada, sama dengan
atau kurang daripada. Lambang-lambang ini hanya boleh digunakan dalam
tabel, bagan, grafik, atau rumus.
- Kata dari hanya digunakan untuk menyatakan
arah (= from), penggunaannya
untuk menyatakan kepemilikan (= of)
sedapat mungkin dihindari.
Contoh: = Penduduk
desa itu sebagian besar berasal dari Sumatera.
= Berdasarkan hasil penelitian (dari)
Cunningham, . . .
- Penggunaan dari dan daripada: dari digunakan
untuk menyatakan arah (= from), daripada digunakan untuk menyatakan
perbandingan (= than).
Contoh: = Ia datang dari rumah.
= Kelompok usia lebih daripada 35 tahun.
- Perhatikan penggunaan singkatan ilmiah:
= gram disingkat g,
bukan gr
= kilogram
disingkat kg,
bukan kgr
- Perhatikan penulisan:
= organ paru, bukan organ paru-paru.
= pada anak, bukan pada anak-anak.
= susunan saraf, bukan susunan syaraf.
=
karena
atau disebabkan,
bukan dikarenakan
= mengubah, bukan merubah
=
silakan (mempersilakan),
bukan silahkan (mempersilahkan)
= terampil
(keterampilan), bukan trampil (ketrampilan).
- Hindari penggunaan istilah asing, sedapat mungkin
gunakan istilah bahasa Indonesia. Jika istilah bahasa Indonesia yang ada belum
atau tidak lazim dipakai, dapat dicantumkan terjemahannya dalam kurung atau
gunakan istilah asing yang penulisannya telah disesuaikan ejaannya.
- Gunakan istilah
yang sama secara konsisten untuk merujuk satu konsep ilmiah dalam
seluruh penulisan.
Contoh: Sekali menggunakan istilah seksio sesaria,
istilah ini harus digunakan secara konsisten dalam seluruh penulisan, jangan
mencantumkan lagi istilah sectio caecaria atau caecarian section.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar